
Ringkasan:{alertringkas}
- Amerika Serikat memaparkan rencana ambisius membangun "Gaza Baru" dari nol dengan konsep kota modern.
- Proyek ini mencakup gedung pencakar langit, kawasan wisata, industri, hingga bandara dan pelabuhan baru.
- Rencana tersebut memicu kontroversi global di tengah krisis kemanusiaan dan konflik yang belum sepenuhnya reda.
niadi.net — Pemerintah Amerika Serikat kembali mengundang perhatian dunia internasional setelah mengumumkan rencana besar bertajuk pembangunan "Gaza Baru". Proyek ini digambarkan sebagai upaya rekonstruksi total wilayah Gaza yang hancur akibat konflik berkepanjangan, dengan pendekatan pembangunan dari nol dan konsep kota modern berskala besar.
Rencana tersebut dipaparkan melalui presentasi resmi yang menampilkan peta induk pembangunan kawasan Gaza. Dalam dokumen visual itu, terlihat puluhan gedung pencakar langit yang direncanakan berdiri di sepanjang garis pantai hingga kawasan bekas permukiman di Rafah, wilayah selatan Gaza yang luluh lantak akibat operasi militer.
Pengumuman ini disampaikan dalam seremoni penandatanganan inisiatif "Dewan Perdamaian" yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Acara tersebut berlangsung di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026, dan langsung menyita perhatian delegasi internasional.
Konsep Kota Baru di Atas Puing Konflik
Dalam presentasi tersebut, pemerintah AS menggambarkan Gaza Baru sebagai kawasan metropolitan modern yang dirancang untuk menampung sekitar 2,1 juta penduduk.
Peta pengembangan menunjukkan pembagian zona yang mencakup kawasan perumahan, pertanian, industri, pusat data, manufaktur berteknologi tinggi, hingga area hijau berupa taman dan fasilitas olahraga.
Salah satu sorotan utama adalah rencana pembangunan kawasan wisata pantai dengan 180 menara apartemen. Gedung-gedung tinggi ini dirancang membentang di sepanjang pesisir, menciptakan siluet kota modern yang disebut-sebut menyerupai pusat ekonomi pesisir dunia.
Selain itu, terdapat pula rencana pembangunan pelabuhan laut dan bandara baru yang lokasinya berada dekat perbatasan Mesir. Infrastruktur ini akan membentuk sistem penyeberangan trilateral yang menghubungkan Gaza, Mesir, dan Israel, sebuah konsep yang diklaim dapat mendorong aktivitas ekonomi regional.
Trump: Lokasi Gaza Punya Nilai Properti Tinggi
Presiden Donald Trump dalam pidatonya menyampaikan keyakinan besar terhadap proyek tersebut. Ia menekankan bahwa letak geografis Gaza, khususnya di wilayah pesisir, memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi.
"Kami akan sangat sukses di Gaza. Ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan," ujar Trump. Ia juga menyinggung latar belakangnya sebagai pengusaha properti, dengan menilai bahwa faktor lokasi menjadi kunci utama kesuksesan sebuah proyek pembangunan besar.
Menurut Trump, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, wilayah Gaza dapat berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pernyataan ini sekaligus memperkuat narasi pemerintah AS yang ingin memosisikan proyek Gaza Baru sebagai simbol kebangkitan pascakonflik.
Peran Jared Kushner dalam Presentasi Proyek
Rencana ambisius tersebut dipresentasikan langsung oleh Jared Kushner, menantu Donald Trump, yang dikenal memiliki peran strategis dalam kebijakan Timur Tengah pemerintahan AS sebelumnya. Dalam paparannya, Kushner menjelaskan kondisi aktual Gaza yang menurutnya membutuhkan rekonstruksi besar-besaran.
Ia menyebutkan bahwa wilayah Gaza telah diguyur sekitar 90.000 ton amunisi selama konflik, menghasilkan sekitar 60 juta ton puing bangunan. Pembersihan puing-puing tersebut menjadi tahap awal yang krusial sebelum pembangunan fisik dapat dimulai.
"Kami sempat mempertimbangkan pendekatan zona terpisah, namun akhirnya memutuskan untuk merancang kesuksesan besar secara menyeluruh," kata Kushner. Ia menegaskan bahwa proyek ini tidak disiapkan dengan rencana alternatif, melainkan difokuskan pada satu visi utama yang dianggap paling efektif.
Empat Fase Rekonstruksi dari Selatan ke Utara
Dalam peta rencana induk, pembangunan Gaza Baru akan dilakukan secara bertahap dalam empat fase. Rekonstruksi dimulai dari Rafah di bagian selatan, kemudian bergerak perlahan ke arah utara hingga mencapai Kota Gaza.
Rafah menjadi fokus utama fase awal karena wilayah tersebut telah sepenuhnya hancur dan kini berada di bawah kendali Israel. Dalam konsep "Rafah Baru", pemerintah AS merencanakan pembangunan lebih dari 100.000 unit hunian permanen, sekitar 200 pusat pendidikan, serta 75 fasilitas medis.
Kushner menyatakan keyakinannya bahwa pembangunan Rafah Baru dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga tahun. Menurutnya, proses pembersihan puing dan pembongkaran terkendali sudah mulai dilakukan sebagai langkah awal.
Perimeter Keamanan dan Kehadiran Pasukan Israel
Salah satu elemen yang memicu perdebatan adalah keberadaan strip tanah kosong di sepanjang perbatasan Gaza dengan Mesir dan Israel. Garis ini disebut sebagai "perimeter keamanan", sebagaimana tercantum dalam rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Trump.
Dalam skema tersebut, pasukan Israel akan tetap berada di wilayah itu hingga Gaza dinyatakan sepenuhnya aman. Pemerintah AS menilai aspek keamanan sebagai prasyarat mutlak agar investasi asing dan sektor swasta bersedia terlibat dalam proyek Gaza Baru.
Kushner menegaskan bahwa proses demiliterisasi Gaza "dimulai sekarang". Ia menilai bahwa tanpa jaminan keamanan jangka panjang, pembangunan dan investasi berskala besar tidak akan mungkin terwujud.
Konferensi Investasi dan Peran Sektor Swasta
Untuk mendukung pembiayaan proyek, Kushner mengungkapkan bahwa dalam beberapa pekan ke depan akan digelar konferensi internasional di Washington. Forum tersebut dirancang untuk mengumumkan kontribusi negara-negara donor serta membuka peluang investasi bagi sektor swasta global.
Pemerintah AS mempromosikan Gaza Baru sebagai kawasan dengan "kesempatan investasi luar biasa", terutama di sektor infrastruktur, teknologi, manufaktur, dan pariwisata. Pendekatan ini menandai pergeseran strategi, dari bantuan kemanusiaan semata menuju pembangunan berbasis investasi.
Kontroversi Relokasi dan Reaksi Global
Rencana Gaza Baru tidak terlepas dari kontroversi. Pada Februari 2025, Trump menuai kecaman internasional setelah mengusulkan relokasi permanen warga Palestina Gaza ke negara-negara tetangga. Gagasan tersebut memicu kemarahan luas dan dituding melanggar prinsip hak asasi manusia.
Meski narasi resmi kini menekankan rekonstruksi dan masa depan ekonomi, kecurigaan tetap muncul di kalangan komunitas internasional dan masyarakat Palestina. Banyak pihak mempertanyakan apakah pembangunan ini benar-benar mengutamakan kepentingan warga Gaza atau lebih condong pada agenda geopolitik.
Situasi Gencatan Senjata yang Rapuh
Di tengah rencana besar tersebut, kondisi keamanan di Gaza masih belum sepenuhnya stabil. Gencatan senjata antara Israel dan Hamas dinilai sangat rapuh. Dalam tiga bulan terakhir, ratusan warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan militer, sementara Israel juga kehilangan personel militernya.
Serangan terbaru bahkan menewaskan sejumlah warga sipil di berbagai wilayah Gaza. Situasi kemanusiaan pun masih memprihatinkan, dengan hampir satu juta orang kehilangan tempat tinggal layak dan lebih dari 1,6 juta jiwa menghadapi krisis pangan akut, menurut data PBB.
Respons Hamas, Israel, dan Otoritas Palestina
Hamas menegaskan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata sebelumnya, sembari menuduh Israel berupaya mengganggu proses internasional yang mendukung perdamaian. Namun kelompok tersebut masih menolak demiliterisasi tanpa pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Presiden Israel Isaac Herzog memuji kepemimpinan Trump, tetapi menekankan bahwa keberhasilan rencana ini bergantung pada hengkangnya Hamas dari Gaza.
Sementara itu, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menyerukan implementasi penuh rencana perdamaian, termasuk penarikan pasukan Israel dan peran sentral PA dalam mengelola Gaza.
Ketua Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG), Ali Shaath, mengumumkan pembukaan kembali penyeberangan Rafah dengan Mesir secara dua arah. Ia menyebut langkah ini sebagai sinyal bahwa Gaza mulai membuka diri menuju masa depan pascaperang.
Harapan Rekonstruksi dan Tantangan Realitas
Rencana Gaza Baru yang diusung Amerika Serikat menghadirkan gambaran masa depan yang kontras dengan kondisi Gaza saat ini. Di satu sisi, proyek ini menjanjikan rekonstruksi, lapangan kerja, dan infrastruktur modern. Di sisi lain, konflik, krisis kemanusiaan, dan persoalan politik yang belum terselesaikan menjadi tantangan besar.
Apakah Gaza Baru akan menjadi simbol perdamaian dan kebangkitan, atau justru menambah daftar kontroversi geopolitik di Timur Tengah, masih menjadi pertanyaan terbuka. Yang pasti, rencana ini telah mengubah Gaza menjadi pusat perhatian dunia, sekali lagi, dengan segala kompleksitas yang menyertainya.