Trending

5 Kota Paling Macet di Indonesia, Bukan Jakarta Teratas

Daftar 5 Kota Paling Macet di Indonesia, Ternyata Jakarta Bukan Teratas
sekitarbandung.com
Ringkasan:
  • Bandung menempati peringkat pertama sebagai kota paling macet di Indonesia, mengalahkan Jakarta.
  • Jakarta tetap padat, namun berada di posisi kedua dengan lonjakan peringkat global.
  • Pertumbuhan kendaraan dan keterbatasan infrastruktur jadi pemicu utama kemacetan di kota besar.
{alertringkas}

niadi.net — Kemacetan lalu lintas masih menjadi persoalan klasik di berbagai kota besar Indonesia. Seiring meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan, waktu tempuh perjalanan menjadi semakin panjang dan tidak efisien.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produktivitas masyarakat, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, konsumsi bahan bakar, hingga tingkat polusi udara.

Selama ini, Jakarta kerap dicap sebagai kota paling macet di Indonesia. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika merujuk pada data terbaru dari TomTom Traffic Index.

Laporan global ini justru menunjukkan bahwa posisi puncak kota termacet di Indonesia ditempati oleh kota lain, sementara Jakarta harus rela berada di urutan berikutnya.

TomTom Traffic Index merupakan indeks lalu lintas global yang menganalisis tingkat kemacetan di ratusan kota dunia. Metode yang digunakan berbasis floating car data (FCD), yakni data kecepatan dan lokasi kendaraan secara real-time yang diperoleh dari perangkat GPS.

Dengan pendekatan ini, TomTom dapat membandingkan waktu tempuh ideal tanpa hambatan dengan waktu perjalanan aktual, sehingga menghasilkan persentase tingkat kemacetan yang relatif akurat.

Berdasarkan data terbaru tersebut, berikut adalah lima kota paling macet di Indonesia beserta gambaran kondisi lalu lintas dan faktor penyebabnya.

1. Bandung

Bandung menempati posisi teratas sebagai kota paling macet di Indonesia. Dalam pemeringkatan global TomTom Traffic Index, Kota Kembang berada di peringkat 16 kota termacet dunia. Pencapaian ini sekaligus menjadikan Bandung sebagai kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Tanah Air.

Tingkat kemacetan rata-rata di Bandung tercatat sebesar 64,1 persen. Untuk menempuh jarak 10 kilometer, waktu yang dibutuhkan mencapai sekitar 32 menit 26 detik, dengan kecepatan rata-rata saat jam sibuk hanya 16,3 km/jam.

Angka ini menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas Bandung relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kemacetan di Bandung dipicu oleh beberapa faktor utama, mulai dari tingginya volume kendaraan pribadi, keterbatasan ruas jalan di kawasan perkotaan, hingga lonjakan wisatawan pada akhir pekan dan musim liburan.

Sebagai kota tujuan wisata favorit, arus kendaraan dari luar daerah sering kali membebani jaringan jalan yang sudah padat.

2. Jakarta

Jakarta berada di posisi kedua sebagai kota paling macet di Indonesia. Meski tidak lagi menduduki peringkat pertama nasional, tingkat kemacetan ibu kota masih tergolong tinggi dan menunjukkan tren peningkatan.

Pada 2025, tingkat kemacetan Jakarta mencapai 59,8 persen. Rata-rata perjalanan sejauh 10 kilometer membutuhkan waktu sekitar 26 menit 19 detik, dengan kecepatan kendaraan saat jam sibuk berkisar 17,8 km/jam.

Dalam skala global, Jakarta melonjak ke peringkat 24 kota termacet dunia, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Tingginya mobilitas penduduk, konsentrasi pusat bisnis dan pemerintahan, serta arus kendaraan dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadi penyumbang utama kemacetan Jakarta. Jam sibuk pagi dan sore hari masih menjadi periode paling krusial dengan kepadatan lalu lintas yang sulit dihindari.

3. Medan

Medan menempati urutan ketiga kota paling macet di Indonesia. Kota terbesar di Sumatera ini berada di peringkat 54 kota termacet dunia dengan tingkat kemacetan mencapai 54,2 persen.

Rata-rata waktu tempuh perjalanan 10 kilometer di Medan mencapai 31 menit 55 detik. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat belum diimbangi dengan pengembangan infrastruktur jalan yang memadai.

Selain itu, aktivitas perdagangan dan distribusi barang di pusat kota sering memicu kepadatan, terutama di sekitar pasar tradisional dan jalur utama penghubung antarwilayah.

4. Palembang

Palembang berada di posisi keempat dalam daftar kota paling macet di Indonesia. Dalam pemeringkatan global, kota ini menempati peringkat 66 dengan tingkat kemacetan 52,7 persen.

Waktu tempuh rata-rata untuk jarak 10 kilometer di Palembang adalah sekitar 28 menit 18 detik. Peningkatan jumlah kendaraan pribadi, pertumbuhan kawasan permukiman, serta aktivitas perkotaan yang terus berkembang menjadi faktor utama penyebab kepadatan lalu lintas.

Meski telah memiliki moda transportasi massal seperti LRT, penggunaannya belum sepenuhnya mampu menekan laju kendaraan pribadi.

5. Surabaya

Surabaya melengkapi daftar lima besar kota paling macet di Indonesia. Kota metropolitan terbesar di Jawa Timur ini berada di peringkat 164 kota termacet dunia dengan tingkat kemacetan 43,7 persen.

Rata-rata perjalanan 10 kilometer di Surabaya memakan waktu 27 menit 54 detik. Aktivitas industri, perdagangan, dan pelabuhan menjadikan arus kendaraan berat dan kendaraan pribadi bertemu di banyak titik strategis.

Kompleksitas fungsi kota sebagai pusat ekonomi regional turut memperbesar tantangan pengelolaan lalu lintas.

Tantangan dan Solusi Kemacetan Perkotaan

Data TomTom Traffic Index menunjukkan bahwa kemacetan bukan hanya persoalan Jakarta, melainkan masalah struktural di banyak kota besar Indonesia. Pertumbuhan kendaraan yang cepat, pola mobilitas yang bergantung pada kendaraan pribadi, serta keterbatasan transportasi publik menjadi tantangan utama.

Ke depan, pengembangan transportasi massal, penataan tata ruang kota, serta kebijakan pembatasan kendaraan pribadi menjadi langkah penting untuk menekan tingkat kemacetan. Tanpa strategi terpadu dan berkelanjutan, kota-kota besar di Indonesia berisiko menghadapi kepadatan lalu lintas yang semakin parah dari tahun ke tahun.

Lebih baru Lebih lama
Cek artikel lainnya lebih cepat melalui saluran WhatsApp. Dan support kami dengan SHARE tulisan ini serta trakteer kami KOPI.

Formulir Kontak