Trending

Mengapa Pinjol Masih Unggul Dibanding Paylater di Indonesia

Mengapa Pinjol Masih Unggul Dibanding Paylater di Indonesia
allianz.co.id
Ringkasan:
  • Pinjol lebih fleksibel karena menyediakan dana tunai untuk berbagai kebutuhan mendesak.
  • Akses cepat dan ekosistem yang luas membuat pinjol tetap dominan dibanding paylater.
  • Faktor literasi keuangan dan regulasi turut membentuk preferensi masyarakat.
{alertringkas}

niadi.net — Di tengah percepatan transformasi digital sektor keuangan, masyarakat Indonesia kini dihadapkan pada beragam pilihan kredit berbasis teknologi.

Dua produk yang paling menonjol adalah pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater. Keduanya sama-sama menawarkan kemudahan akses tanpa proses panjang seperti perbankan konvensional.

Namun, meskipun paylater semakin sering digunakan dalam transaksi e-commerce dan aplikasi pembayaran, data menunjukkan bahwa pinjol masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam hal volume utang.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa pinjol tetap lebih dipilih dibanding paylater, padahal paylater sering menawarkan cicilan ringan, promo, bahkan bunga nol persen? Jawabannya tidak sederhana, karena melibatkan kombinasi kebutuhan ekonomi riil, perilaku konsumen, struktur produk, hingga faktor regulasi.

Dominasi Pinjol dalam Struktur Utang Digital

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Oktober 2025, pinjol masih mendominasi porsi pembiayaan digital masyarakat. Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, menyampaikan bahwa nilai outstanding pinjol telah mencapai Rp 92,92 triliun.

Angka tersebut tumbuh 23,86 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, pembiayaan paylater memang menunjukkan laju pertumbuhan yang impresif secara persentase, yakni 69,71 persen secara tahunan menjadi Rp 10,85 triliun.

Namun, nilai absolutnya masih jauh di bawah pinjol. Bahkan, pertumbuhan outstanding BNPL mulai melambat dibanding periode sebelumnya.

Perbedaan ini menegaskan bahwa meskipun paylater berkembang pesat, kebutuhan masyarakat terhadap pinjaman tunai masih jauh lebih besar dibandingkan kredit konsumsi berbasis transaksi.

Kebutuhan Tunai Menjadi Faktor Penentu

Fleksibilitas Penggunaan Dana

Salah satu alasan utama pinjol lebih diminati adalah fleksibilitasnya. Pinjol menyediakan dana tunai yang langsung cair ke rekening pengguna, tanpa mengikat penggunaan dana pada transaksi tertentu.

Uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, perbaikan rumah, hingga modal usaha mikro.

Sebaliknya, paylater umumnya hanya dapat digunakan untuk transaksi tertentu, seperti pembelian barang di marketplace, pemesanan tiket, atau layanan digital lainnya.

Keterikatan ini membuat paylater kurang relevan bagi masyarakat yang membutuhkan uang tunai secara cepat dan bebas.

Kebutuhan Mendesak dan Darurat

Dalam banyak kasus, kebutuhan finansial masyarakat bersifat mendesak dan tidak selalu berkaitan dengan konsumsi barang. Kondisi seperti biaya medis mendadak atau kebutuhan menutup utang lain menuntut ketersediaan dana tunai instan.

Pada titik inilah pinjol dianggap lebih solutif dibanding paylater.

Aksesibilitas dan Ketersediaan Produk

Kemudahan Akses Pinjol

Pinjol dikenal luas karena kemudahan prosesnya. Cukup dengan KTP dan ponsel pintar, pengguna dapat mengajukan pinjaman dan menerima dana dalam waktu singkat.

Proses verifikasi yang cepat ini menjadi daya tarik utama, terutama bagi kelompok masyarakat yang tidak terjangkau layanan perbankan formal.

Selain itu, pinjol hadir sebagai aplikasi mandiri yang dapat diakses kapan saja, tanpa bergantung pada platform lain.

Paylater Terikat Ekosistem Tertentu

Berbeda dengan pinjol, paylater biasanya terintegrasi dalam ekosistem tertentu, seperti marketplace atau aplikasi pembayaran.

Meski integrasinya semakin luas, pengguna tetap harus berada dalam konteks transaksi untuk memanfaatkannya. Hal ini membatasi fungsi paylater sebagai solusi keuangan umum.

Alasan Penggunaan Pinjol Lebih Beragam

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa alasan masyarakat menggunakan pinjol sangat beragam. Sekitar 23,02 persen responden memanfaatkan pinjol untuk pembelian barang secara cicilan tanpa kartu kredit.

Sebanyak 21,77 persen menggunakannya untuk kebutuhan mendesak, sementara 17,73 persen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, ada pula pengguna yang tertarik karena promosi, diskon, atau kemudahan akses. Data ini memperlihatkan bahwa pinjol tidak hanya dipakai untuk konsumsi, tetapi juga untuk menopang kebutuhan hidup dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Struktur Biaya dan Persepsi Nilai

Persepsi "Harga" atas Akses Dana

Pinjol kerap dikritik karena bunga dan biaya keterlambatan yang relatif tinggi. Namun, banyak pengguna tetap bersedia menanggung biaya tersebut karena nilai utama yang ditawarkan adalah akses dana tunai yang fleksibel.

Dalam perspektif konsumen, membayar biaya lebih tinggi dianggap sepadan dengan kemampuan menggunakan dana sesuai kebutuhan mereka.

Paylater dan Batasan Limit

Paylater sering menawarkan cicilan ringan atau bunga nol persen, tetapi biasanya disertai batas limit yang relatif kecil, terutama bagi pengguna baru.

Selain itu, biaya keterlambatan dan penalti tertentu dapat membuat sebagian pengguna ragu memanfaatkannya untuk kebutuhan non-konsumtif.

Pengaruh Regulasi terhadap Preferensi Pengguna

Pengetatan Aturan Paylater

Pada 2025, OJK memperketat regulasi paylater, termasuk persyaratan usia, pendapatan minimum, serta kewajiban transparansi informasi. Tujuan utama kebijakan ini adalah melindungi konsumen dari risiko utang berlebihan.

Namun, pengetatan ini juga berdampak pada berkurangnya akses sebagian pengguna terhadap paylater, sehingga mereka beralih ke pinjol yang dinilai lebih mudah diakses.

Banyaknya Penyedia Pinjol

Meskipun pinjol juga diawasi oleh OJK, jumlah penyedia yang besar membuat produk ini tetap mudah ditemukan. Keberadaan pinjol ilegal memang menjadi tantangan, tetapi dari sisi akses, pinjol tetap lebih luas jangkauannya.

Perilaku Konsumen dan Faktor Demografis

Generasi muda usia 18–35 tahun menjadi pengguna utama kredit digital. Kelompok ini akrab dengan teknologi dan aktif dalam ekonomi digital.

Meskipun adopsi paylater terus meningkat, preferensi terhadap pinjol tetap kuat ketika kebutuhan yang dihadapi bersifat mendesak dan membutuhkan uang tunai.

Rasio adopsi BNPL yang mencapai sekitar 9 persen menunjukkan potensi besar, tetapi belum cukup untuk menggeser dominasi pinjol dalam jangka pendek.

Literasi Keuangan sebagai Tantangan Utama

Rendahnya literasi keuangan masih menjadi persoalan mendasar. Banyak pengguna belum sepenuhnya memahami konsekuensi bunga, denda, dan kewajiban pembayaran.

Hal ini memicu perilaku impulsif, terutama pada produk yang menawarkan kemudahan instan.

Tanpa edukasi yang memadai, baik pinjol maupun paylater berpotensi menimbulkan masalah keuangan jangka panjang bagi masyarakat.

Dampak terhadap Ekonomi dan Industri Fintech

Pertumbuhan pinjol dan paylater mencerminkan perubahan struktur kredit di Indonesia. Pinjol berperan sebagai penopang utama pembiayaan tunai digital, sementara paylater mengisi ceruk konsumsi berbasis transaksi.

Ekspansi paylater didorong oleh kemitraan dengan marketplace besar dan layanan digital lainnya. Namun, hingga akhir 2025, pinjol masih mempertahankan dominasinya dari sisi volume pembiayaan.

Bukan Soal Mana yang Lebih Baik

Preferensi masyarakat terhadap pinjol dibanding paylater bukanlah soal produk mana yang lebih baik atau lebih buruk. Pilihan tersebut ditentukan oleh kesesuaian dengan kebutuhan, kemudahan akses, serta kondisi finansial masing-masing individu.

Pinjol unggul dalam fleksibilitas dan ketersediaan dana tunai, sementara paylater menawarkan kenyamanan dalam konsumsi digital. Keduanya memiliki peran penting dalam ekosistem keuangan digital Indonesia.

Ke depan, tantangan utama adalah meningkatkan literasi keuangan dan memastikan regulasi yang seimbang, sehingga kedua produk ini dapat memberikan manfaat optimal tanpa menimbulkan risiko finansial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Lebih baru Lebih lama
Cek tulisan lainnya lebih cepat melalui saluran WhatsApp
Support kami dengan SHARE tulisan ini dan traktir kami KOPI.

Formulir Kontak