Trending

10 Negara Paling Aman Jika PD III Pecah, Ternyata Ada Indonesia

Daftar 10 Negara Paling Aman Jika PD III Pecah, Ternyata Ada Indonesia
intellinews.com
Ringkasan:
  • Ketegangan global memicu kekhawatiran Perang Dunia III dan ancaman perang nuklir.
  • Sejumlah negara dinilai paling aman berdasarkan netralitas, geografi, dan sumber daya.
  • Indonesia masuk daftar negara relatif aman jika konflik global terjadi.
{alertringkas}

niadi.net — Kekhawatiran dunia terhadap potensi pecahnya Perang Dunia III kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Hubungan Amerika Serikat dengan sejumlah negara, mulai dari konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran hingga dinamika geopolitik di kawasan strategis seperti Greenland, memunculkan spekulasi serius mengenai eskalasi konflik berskala global.

Situasi ini memicu diskusi luas, tidak hanya di kalangan pengamat politik dan militer, tetapi juga masyarakat umum yang mulai mempertanyakan satu hal mendasar: jika perang global benar-benar terjadi, negara mana yang paling aman untuk bertahan hidup?

Kecemasan tersebut diperkuat oleh pandangan para pakar, salah satunya jurnalis investigatif dan analis perang nuklir, Annie Jacobsen. Dalam berbagai kesempatan, ia menggambarkan skenario mengerikan apabila perang nuklir benar-benar pecah. Menurutnya, dampak perang semacam itu tidak akan berlangsung bertahap, melainkan terjadi sangat cepat dan masif.

Dalam perhitungannya, sekitar 5 miliar manusia berpotensi meninggal dunia hanya dalam waktu kurang dari satu jam sejak serangan nuklir pertama diluncurkan. Gambaran kehancuran global itu ia paparkan dalam sebuah wawancara di podcast The Diary of a CEO, yang kemudian menjadi rujukan banyak diskusi internasional terkait risiko perang nuklir.

Salah satu fakta yang mengkhawatirkan adalah kecepatan rudal balistik antarbenua. Jacobsen menjelaskan bahwa rudal semacam itu hanya membutuhkan waktu sekitar 26 menit 40 detik untuk mencapai Pantai Timur Amerika Serikat apabila diluncurkan dari Rusia. Artinya, ruang waktu untuk mengambil keputusan nyaris tidak ada.

Dunia Hanya Punya Waktu Kurang dari 90 Menit

Dalam skenario terburuk, Jacobsen menegaskan bahwa umat manusia sesungguhnya hanya memiliki waktu yang sangat terbatas sebelum dunia berubah total.

"Dunia hanya punya waktu kurang dari 90 menit" {alertError}

Sejak sistem peringatan dini mendeteksi peluncuran senjata nuklir, seluruh keputusan krusial harus diambil dalam hitungan menit. Presiden Amerika Serikat, misalnya, hanya memiliki sekitar enam menit untuk menentukan langkah serangan balasan melalui dokumen rahasia yang dikenal sebagai Buku Hitam. Keputusan dalam waktu sesingkat itu berpotensi menentukan nasib peradaban manusia.

Namun, menurut Jacobsen, kehancuran tidak berhenti pada ledakan nuklir semata. Ia mengutip penelitian Brian Toon, profesor ilmu atmosfer, yang menyoroti efek lanjutan dari perang nuklir berskala besar. Ledakan nuklir akan menghasilkan debu dan asap dalam jumlah sangat besar yang menyelimuti atmosfer bumi, menghalangi sinar matahari, dan memicu fenomena yang dikenal sebagai nuclear winter.

Akibatnya, suhu global akan turun drastis. Banyak wilayah di dunia akan mengalami musim dingin ekstrem berkepanjangan, bahkan hingga bertahun-tahun. Kondisi ini membuat sektor pertanian lumpuh total dan rantai pasok pangan global terputus.

"Sebagian besar dunia, terutama wilayah lintang tengah, akan tertutup lapisan es. Daerah seperti Iowa dan Ukraina bisa bersalju hingga 10 tahun," ujar Jacobsen, dikutip dari The Economic Times (22/4/2025).

"Ketika pertanian gagal, manusia akan mati kelaparan," tambahnya.

Tidak hanya itu, rusaknya lapisan ozon akibat ledakan nuklir akan membuat paparan sinar matahari menjadi sangat berbahaya bagi makhluk hidup. Dalam kondisi ekstrem tersebut, manusia diperkirakan harus hidup di bawah tanah dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Jacobsen bahkan menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang realistis untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dalam skenario terburuk, yakni Selandia Baru dan Australia, karena keduanya dinilai masih mampu menjaga sektor pertanian tetap berjalan.

Faktor Penentu Negara Paling Aman

Di luar skenario kiamat nuklir total, para analis geopolitik juga kerap menyusun daftar negara yang relatif paling aman jika Perang Dunia III pecah.

Penilaian ini umumnya didasarkan pada beberapa faktor utama, antara lain netralitas politik, isolasi geografis, minimnya kepentingan strategis global, stabilitas domestik, serta ketersediaan sumber daya alam.

Dikutip dari The Economic Times (24/11/2024), berikut adalah 10 negara yang sering disebut sebagai yang paling aman dalam menghadapi potensi konflik global berskala besar.

10. Chile

Chile terletak di tepi barat Amerika Selatan dan dilindungi oleh Pegunungan Andes serta Samudra Pasifik. Negara ini memiliki keanekaragaman sumber daya alam dan infrastruktur yang cukup maju, sehingga dinilai mampu bertahan dalam kondisi ekstrem.

9. Norwegia

Meski menjadi anggota NATO, Norwegia memiliki medan yang terjal, populasi kecil, serta lokasi di wilayah Arktik. Faktor geografis ini secara strategis dapat mengurangi dampak langsung konflik berskala besar.

8. Australia

Australia memiliki keunggulan berupa isolasi geografis, kepadatan penduduk rendah, dan kelimpahan sumber daya alam. Faktor-faktor tersebut menjadikannya target yang kurang menarik dalam konflik global besar.

Selain itu, Australia dinilai memiliki kapasitas pertanian dan infrastruktur yang relatif kuat untuk bertahan pasca-konflik.

7. Fiji

Fiji terletak jauh di tengah Samudra Pasifik dan berada di luar jalur utama konflik geopolitik dunia. Negara ini memiliki angkatan bersenjata kecil dan menempati peringkat tinggi dalam Indeks Perdamaian Global.

Kekayaan alam berupa hutan, mineral, serta sumber daya laut dinilai mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang jika sistem global terganggu.

6. Irlandia

Irlandia mempertahankan kebijakan netralitas dan memilih tidak bergabung dengan NATO. Keputusan ini mengurangi kemungkinan negara tersebut menjadi target langsung dalam konflik militer global.

Stabilitas politik domestik dan posisi geografis di tepi barat Eropa turut memperkuat statusnya sebagai negara yang relatif aman.

5. Bhutan

Bhutan terletak di kawasan Himalaya dan dikenal dengan filosofi Kebahagiaan Nasional Bruto yang menitikberatkan pada kesejahteraan dan perdamaian. Interaksinya yang terbatas dengan kekuatan besar dunia membuat Bhutan jarang menjadi sasaran kepentingan geopolitik.

Negara ini menyatakan netralitas sejak bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1971 dan terlindungi secara alami oleh medan pegunungan yang sulit dijangkau.

4. Indonesia

Indonesia, oleh sejumlah media internasional, termasuk surat kabar Inggris Metro (3/12/2025), menyoroti konsistensi Indonesia dalam menerapkan politik luar negeri "bebas dan aktif" sejak era Presiden pertama, Ir. Sukarno.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi strategis, Indonesia justru memilih tidak terikat pada blok kekuatan besar mana pun. Pendekatan ini membuat Indonesia relatif netral dalam berbagai konflik global dan lebih menekankan peran sebagai jembatan perdamaian internasional.

Kondisi geografis berupa ribuan pulau, kekayaan sumber daya alam, serta ketahanan pangan di sejumlah wilayah menjadi faktor tambahan yang mendukung posisi Indonesia sebagai negara yang relatif aman dalam skenario konflik global.

3. Islandia

Islandia memiliki keunggulan berupa isolasi geografis di Atlantik Utara dan minim kepentingan strategis militer. Negara ini dikenal sebagai salah satu yang paling damai di dunia karena tidak pernah terlibat dalam perang skala penuh.

Sebagai negara kepulauan terpencil, Islandia relatif aman dari dampak langsung perang konvensional di Eropa, meskipun efek tidak langsung konflik nuklir global tetap berpotensi dirasakan.

2. Selandia Baru

Lokasi Selandia Baru yang terpencil di Pasifik Selatan menjauhkannya dari pusat konflik geopolitik dunia. Negara ini cenderung menghindari keterlibatan militer langsung meskipun memiliki hubungan diplomatik yang luas.

Peringkat tinggi dalam Indeks Perdamaian Global, topografi pegunungan, serta kemampuan pertanian yang relatif mandiri menjadikan Selandia Baru salah satu kandidat terkuat untuk bertahan dalam skenario perang global.

1. Swiss

Swiss dikenal luas sebagai simbol netralitas global. Kebijakan luar negeri netral telah menjadi fondasi negara ini selama ratusan tahun dan secara resmi diakui sejak Kongres Wina pada 1815. Sejak saat itu, Swiss tidak terlibat dalam perang internasional.

Perlindungan alami berupa Pegunungan Alpen, status sebagai negara terkurung daratan, serta keberadaan ribuan bunker perlindungan nuklir yang tersebar di berbagai wilayah membuat Swiss sangat siap menghadapi krisis ekstrem.

Refleksi di Tengah Ketidakpastian Global

Meski daftar negara paling aman ini sering menjadi bahan diskusi, para ahli menegaskan bahwa tidak ada satu pun tempat yang benar-benar aman jika perang nuklir global benar-benar terjadi.

Namun demikian, faktor netralitas politik, isolasi geografis, dan ketahanan sumber daya tetap menjadi penentu utama dalam memperkecil dampak terburuk konflik global.

Masuknya Indonesia dalam daftar 10 negara paling aman menjadi catatan menarik. Indonesia, yang dinilai mampu menjaga posisi independen di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Di tengah ketidakpastian global, pendekatan diplomasi damai dan prinsip bebas aktif tetap relevan sebagai fondasi menjaga stabilitas nasional dan regional.

Lebih baru Lebih lama
Cek tulisan lainnya lebih cepat melalui saluran WhatsApp
Support kami dengan SHARE tulisan ini dan traktir kami KOPI.

Formulir Kontak