Ringkasan:{alertringkas}
- Hantavirus bukan penyakit baru dan sudah terdeteksi di Indonesia sejak 1980-an.
- Virus ini menyebar melalui paparan kotoran, urin, dan saliva tikus.
- Gejalanya sering mirip demam berdarah, tifoid, dan leptospirosis sehingga sulit dikenali.
niadi.net — Hantavirus kembali menjadi perhatian masyarakat setelah kasus infeksi virus tersebut dikaitkan dengan insiden kesehatan di sebuah kapal pesiar.
Meski belakangan ramai diperbincangkan, sebenarnya virus ini bukan ancaman baru di dunia medis maupun di Indonesia.
Kementerian Kesehatan menyebut hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak dekade 1980-an. Berbagai penelitian bahkan menunjukkan virus tersebut sudah lama beredar di lingkungan masyarakat, terutama di wilayah dengan populasi tikus yang tinggi.
Hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan utamanya berasal dari rodensia seperti tikus dan celurut yang membawa virus tertentu dari kelompok Orthohantavirus.
Virus ini dapat memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari demam berdarah dengan gangguan ginjal hingga masalah berat pada sistem pernapasan.
Awal Mula Penelitian Hantavirus di Dunia
Sejarah penelitian hantavirus dimulai sejak era Perang Korea pada awal 1950-an. Saat itu banyak tentara mengalami penyakit misterius berupa demam berdarah disertai gangguan ginjal.
Ribuan kasus dilaporkan menyerang pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah perang berlangsung antara tahun 1951 hingga 1953.
Namun, penyebab penyakit tersebut baru berhasil diidentifikasi beberapa dekade kemudian. Pada 1978, ilmuwan berhasil mengisolasi virus dari hewan pengerat kecil bernama Apodemus agrarius yang hidup di sekitar Sungai Hantan di Korea Selatan.
Karena ditemukan di kawasan tersebut, virus itu kemudian dinamai virus Hantaan.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam dunia virologi karena membuka jalan bagi penelitian lebih luas mengenai kelompok virus hantavirus.
Pada 1981, genus Hantavirus resmi diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae sebagai virus penyebab haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS.
Perkembangan penelitian terus berlanjut hingga akhirnya pada 1993 muncul wabah baru di Amerika Serikat bagian barat daya yang menyebabkan gangguan pernapasan berat. Wabah tersebut kemudian dikenal sebagai hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.
Persebaran Hantavirus di Berbagai Negara
Hantavirus memiliki berbagai tipe yang tersebar di banyak wilayah dunia. Setiap tipe umumnya berkaitan dengan spesies tikus tertentu dan memiliki area persebaran geografis berbeda.
Tipe Hantaan banyak ditemukan di Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, namun juga ditemukan di Rusia.
Virus Puumala lebih sering muncul di kawasan Skandinavia dan Eropa Barat. Sementara virus Dobrava banyak ditemukan di wilayah Balkan.
Ada pula virus Saarema yang tersebar di Eropa Tengah dan Skandinavia.
Salah satu tipe yang paling luas penyebarannya adalah Seoul virus. Virus ini dapat ditemukan di berbagai negara di dunia karena terkait dengan tikus perkotaan yang hidup dekat permukiman manusia.
Di benua Amerika, terdapat Sin Nombre virus yang banyak ditemukan di Amerika Serikat dan Kanada.
Sementara Andes virus menjadi tipe yang dominan di wilayah Amerika Selatan seperti Argentina dan Chili.
Indonesia Sudah Lama Terpapar Hantavirus
Di Indonesia, keberadaan hantavirus sebenarnya sudah diketahui sejak puluhan tahun lalu. Penelitian yang dilakukan di sejumlah kota besar menunjukkan adanya paparan virus pada manusia dengan angka cukup signifikan.
Kementerian Kesehatan menyebut seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.
Artinya, dalam sejumlah penelitian ditemukan bahwa sebagian masyarakat pernah terpapar virus tersebut, meski tidak semuanya terdiagnosis secara klinis.
Pada populasi tikus sebagai reservoir utama virus, tingkat infeksi bahkan dapat mencapai 34 persen di beberapa wilayah tertentu.
Data ini menunjukkan hantavirus masih aktif beredar di lingkungan, terutama di daerah padat penduduk dengan sanitasi yang kurang baik dan populasi rodensia yang tinggi.
Kondisi lingkungan perkotaan maupun permukiman padat menjadi faktor penting dalam penyebaran virus tersebut.
Gejala Hantavirus Sering Mirip Penyakit Lain
Salah satu alasan hantavirus sulit terdeteksi adalah karena gejalanya sangat mirip dengan penyakit tropis lain yang umum terjadi di Indonesia.
Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, mual, sakit kepala, tubuh lemas, hingga gangguan pernapasan pada kondisi tertentu.
Gejala tersebut sering menyerupai demam berdarah dengue, tifoid, maupun leptospirosis.
Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus hantavirus diduga tidak terdiagnosis secara spesifik dan tercatat sebagai penyakit lain.
Padahal dalam beberapa kasus, infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam nyawa.
Jenis HFRS misalnya dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan gangguan pembuluh darah, sedangkan HPS bisa menimbulkan gagal napas akut.
Cara Penularan Hantavirus dari Tikus ke Manusia
Hantavirus menyebar terutama melalui partikel udara yang terkontaminasi kotoran tikus.
Virus dapat masuk ke tubuh manusia ketika seseorang menghirup debu yang mengandung urin, feses, atau air liur rodensia yang telah mengering.
Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan tikus atau permukaan yang tercemar virus.
Seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di area yang banyak terdapat tikus dan memiliki sirkulasi udara buruk sudah dapat meningkatkan risiko paparan.
Gudang, rumah kosong, area penyimpanan makanan, pasar tradisional, hingga lingkungan lembap menjadi lokasi yang berpotensi menjadi tempat penyebaran virus.
Karena itu, kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus menjadi langkah penting dalam mencegah penularan hantavirus.
Kasus Hantavirus di Indonesia Hingga 2026
Kementerian Kesehatan mencatat puluhan kasus hantavirus jenis Seoul virus ditemukan dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.
Dalam periode tiga tahun terakhir, tercatat 23 kasus infeksi dengan tiga di antaranya meninggal dunia.
Pada 2026, ditemukan tambahan kasus baru di sejumlah wilayah Indonesia.
Daerah yang melaporkan kasus antara lain Sumatera Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara.
DIY dan DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus relatif lebih tinggi dibanding beberapa daerah lain.
Peningkatan perhatian terhadap hantavirus membuat pemerintah mulai memperkuat sistem pemantauan penyakit zoonosis di berbagai daerah.
Selain pengawasan kasus manusia, pemantauan populasi tikus juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi penyebaran virus.
Tenaga kesehatan kini juga diimbau lebih waspada terhadap pasien dengan gejala mirip leptospirosis atau demam berdarah yang tidak menunjukkan hasil diagnosis pasti.
Dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi dan kondisi lingkungan perkotaan yang terus berkembang, potensi penyebaran penyakit zoonosis seperti hantavirus menjadi tantangan tersendiri bagi sistem kesehatan masyarakat di Indonesia.