
Ringkasan:{alertringkas}
- Doraemon resmi menghilang dari jadwal RCTI sejak akhir 2025 setelah 35 tahun tayang.
- Keputusan ini memicu nostalgia dan perbincangan luas di media sosial.
- Berakhir di TV bukan akhir Doraemon, karena masih hadir di platform digital.
niadi.net — Penonton televisi nasional Indonesia kini harus merelakan kepergian salah satu ikon hiburan anak paling legendaris. Setelah menemani berbagai generasi selama lebih dari tiga dekade, serial anime Doraemon dipastikan tidak lagi tayang di RCTI mulai awal 2026.
Hilangnya tayangan ini menjadi penanda berakhirnya salah satu program animasi dengan masa siar terpanjang di sejarah televisi nasional.
Berdasarkan pemantauan jadwal resmi di platform RCTI+, nama Doraemon tidak lagi tercantum sejak akhir Desember 2025. Mulai 29 Desember 2025 hingga pekan pertama Januari 2026, robot kucing biru dari abad ke-22 itu benar-benar absen dari daftar program.
Meski belum disertai pernyataan resmi dari pihak stasiun televisi, absennya Doraemon secara konsisten menguatkan dugaan bahwa penayangan tersebut telah dihentikan.
Doraemon Resmi Hilang dari Jadwal RCTI
Absennya Doraemon dari layar kaca RCTI bukanlah perubahan kecil. Selama puluhan tahun, anime asal Jepang ini menjadi tayangan rutin, terutama di akhir pekan dan jam keluarga.
Keberadaannya seolah menjadi tradisi, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa yang tumbuh besar bersama cerita Nobita dan sahabat-sahabatnya.
Hilangnya Doraemon dari jadwal siaran sejak penghujung 2025 sekaligus menutup satu fase penting dalam sejarah penyiaran televisi Indonesia. Tidak banyak program, khususnya animasi impor, yang mampu bertahan selama itu dan tetap relevan di tengah perubahan selera penonton.
Hingga kini, belum ada pernyataan terbuka yang menegaskan apakah Doraemon benar-benar berhenti permanen atau hanya rehat sementara.
Namun, jika melihat pola penghapusan jadwal yang berkelanjutan, banyak pihak menilai ini sebagai akhir dari kerja sama penayangan jangka panjang antara Doraemon dan RCTI.
Ramai Diperbincangkan Warganet
Kabar tak lagi tayangnya Doraemon dengan cepat menyebar di media sosial X (twitter) dan menjadi topik hangat. Sejumlah akun penggemar budaya pop menyoroti momen ini sebagai peristiwa bersejarah, salah satunya @IndoPopBase.
Unggahan yang menyebut berakhirnya penayangan Doraemon setelah hampir empat dekade memicu gelombang nostalgia. Banyak warganet mengenang masa kecil mereka yang identik dengan menonton Doraemon bersama keluarga di rumah.
Bagi generasi 1990-an hingga awal 2000-an, Doraemon bukan sekadar tontonan anak-anak. Anime ini sering dianggap sebagai bagian dari memori kolektif, menghadirkan cerita ringan namun sarat pesan moral.
Tidak sedikit pula orang tua masa kini yang memperkenalkan Doraemon kepada anak-anak mereka sebagai tontonan keluarga.
Sejarah Panjang Doraemon di Indonesia
Doraemon pertama kali dikenal luas oleh publik Indonesia sejak akhir era 1980-an dan semakin populer pada awal 1990-an. RCTI kemudian menjadikannya sebagai salah satu program andalan yang konsisten hadir di layar kaca.
Serial ini diadaptasi dari manga karya Fujiko F. Fujio, yang mengisahkan persahabatan antara Doraemon, Nobita Nobi, Shizuka, Gian, dan Suneo.
Dengan berbagai alat ajaib dari kantong empat dimensi, Doraemon membantu Nobita menghadapi masalah sehari-hari, sering kali dengan cara yang menghibur sekaligus mengandung pelajaran hidup.
Tema yang diangkat sangat dekat dengan keseharian penonton: persahabatan, tanggung jawab, kejujuran, dan empati. Hal inilah yang membuat Doraemon mampu bertahan lama dan diterima lintas budaya.
Selain serial televisi, Doraemon juga rutin hadir dalam versi film layar lebar. Setiap tahunnya, film Doraemon hampir selalu mendapatkan sambutan positif di bioskop Indonesia.
Beberapa judul bahkan mencatatkan jumlah penonton yang signifikan, menandakan kuatnya basis penggemar di Tanah Air.
Mengapa Doraemon Berhenti Tayang di TV?
Berakhirnya penayangan Doraemon di televisi nasional tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam industri media. Pola konsumsi tontonan masyarakat kini bergeser dari televisi konvensional ke platform digital dan layanan streaming.
Anak-anak dan remaja saat ini lebih akrab dengan gawai dibandingkan televisi. Konten on-demand yang bisa ditonton kapan saja menjadi pilihan utama.
Kondisi ini membuat program televisi, termasuk animasi legendaris, harus bersaing dengan ribuan konten digital lainnya.
Selain faktor kebiasaan penonton, keputusan penghentian tayangan juga bisa dipengaruhi oleh strategi bisnis dan pengelolaan hak siar. Penayangan eksklusif di platform digital sering kali dianggap lebih relevan dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Akhir di TV, Awal Babak Baru Doraemon
Meski tak lagi hadir di televisi nasional, Doraemon tidak benar-benar menghilang. Serial dan filmnya masih dapat diakses melalui berbagai platform digital dan layanan streaming resmi. Dengan demikian, penggemar tetap bisa mengikuti petualangan Doraemon tanpa terikat jadwal siaran.
Kehadiran Doraemon di platform digital justru membuka peluang untuk menjangkau generasi baru. Anak-anak masa kini dapat mengenal Doraemon melalui medium yang lebih sesuai dengan gaya hidup mereka, sementara penggemar lama tetap bisa bernostalgia.
Berakhirnya penayangan Doraemon di TV nasional setelah 35 tahun merupakan momen emosional bagi banyak orang. Ini bukan sekadar soal sebuah program yang berhenti tayang, melainkan penanda perubahan zaman dalam dunia hiburan.
Televisi yang dahulu menjadi pusat hiburan keluarga kini harus berbagi peran dengan platform digital. Meski satu bab nostalgia telah tertutup, kisah Doraemon dipastikan akan terus hidup dan menemani penonton Indonesia dalam format yang berbeda.