Trending

Netanyahu dan Timing Serang Iran Sebelum 30 Maret, Untuk Apa?

Netanyahu dan Timing Serang Iran Sebelum 30 Maret, Untuk Apa?
euronews.com
Ringkasan:
  • Serangan ke Iran dinilai berkaitan dengan dinamika politik domestik Israel menjelang pemilu 2026.
  • Tenggat pengesahan anggaran 30 Maret disebut menjadi faktor krusial bagi kelangsungan pemerintahan.
  • Analis menilai perang bisa memperkuat atau justru melemahkan posisi Netanyahu tergantung hasilnya.
{alertringkas}

niadi.netNetanyahu Diduga Atur Waktu Serangan Iran Jelang Tenggat Politik. Spekulasi mengenai motif politik di balik eskalasi konflik antara Israel dan Iran kian menguat.

Sejumlah analis menilai langkah militer yang diambil pemerintah Israel bukan hanya persoalan keamanan nasional, tetapi juga berkaitan erat dengan agenda politik domestik menjelang pemilu yang harus digelar paling lambat Oktober 2026.

Nama Benjamin Netanyahu kembali menjadi pusat perdebatan. Perdana Menteri Israel yang telah menjabat lebih dari 18 tahun dalam beberapa periode itu disebut berada dalam posisi politik yang tidak stabil, terutama setelah krisis keamanan besar pada Oktober 2023 dan dinamika koalisi parlemen yang rapuh.

Isu yang mengemuka adalah dugaan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan sebelum tenggat 30 Maret, yang berkaitan langsung dengan pengesahan anggaran negara di parlemen Israel.

Tekanan Politik Menjelang Pemilu Israel 2026

Israel dijadwalkan menggelar pemilu paling lambat 27 Oktober 2026. Namun sistem parlementer negara tersebut memungkinkan pemilu lebih awal apabila pemerintahan kehilangan dukungan mayoritas atau gagal mengesahkan anggaran.

Di bawah hukum Israel, kegagalan meloloskan anggaran hingga tenggat tertentu dapat otomatis membubarkan parlemen dan memicu pemilu dini. Dalam konteks inilah tanggal 30 Maret menjadi sangat krusial. Jika anggaran tidak disahkan, pemerintahan bisa runtuh pada 1 April.

Bagi Netanyahu, memasuki masa kampanye dalam kondisi pemerintahan jatuh dan dukungan melemah akan menjadi posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Popularitas Netanyahu Tergerus Sejak 7 Oktober 2023

Serangan yang dilancarkan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 menjadi titik balik signifikan dalam politik Israel. Peristiwa tersebut tercatat sebagai salah satu hari paling mematikan dalam sejarah negara itu.

Banyak pihak menilai pemerintah gagal mengantisipasi ancaman tersebut. Kritik diarahkan langsung kepada Netanyahu sebagai kepala pemerintahan.

Sebagai pemimpin partai Likud, Netanyahu sebelumnya dikenal sebagai figur kuat dalam isu keamanan nasional. Namun krisis tersebut menggerus citra kepemimpinannya.

Selain itu, perang yang berkepanjangan di Gaza menambah tekanan publik. Korban jiwa, beban ekonomi, serta meningkatnya biaya hidup membuat dukungan terhadap pemerintah menurun dalam berbagai survei opini publik.

Serangan ke Iran dan Momentum Politik

Setelah gelombang serangan militer terhadap Iran yang menewaskan Ali Khamenei, Netanyahu menekankan pentingnya hubungan dekat dengan Amerika Serikat dalam memungkinkan operasi tersebut terjadi.

Ia menyatakan bahwa selama puluhan tahun dirinya memandang Iran sebagai ancaman strategis utama, dan momentum terbaru dianggap sebagai realisasi dari visi tersebut.

Analis politik dari Universitas Tel Aviv, Emmanuel Navon, menilai bahwa Netanyahu mungkin akan mempercepat jadwal pemilu apabila momentum politiknya terus membaik.

Menurut sejumlah jajak pendapat terbaru, Likud mulai menunjukkan tren penguatan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Walaupun belum tentu memperoleh mayoritas absolut, potensi membentuk koalisi kembali terbuka jika sentimen keamanan nasional mendominasi opini publik.

Apakah Serangan Ini Terkait Tenggat 30 Maret?

Sejumlah pengamat menduga bahwa waktu pecahnya konflik tidak sepenuhnya kebetulan. Tenggat pengesahan anggaran pada akhir Maret dipandang sebagai tekanan politik serius bagi pemerintah.

Dalam situasi darurat atau perang, proses politik domestik dapat mengalami penyesuaian. Prioritas nasional bergeser dari perdebatan anggaran menuju stabilitas keamanan.

Hipotesis ini menyebut bahwa dengan meningkatnya ancaman eksternal, fokus publik dan parlemen dapat beralih, sehingga tekanan terhadap pengesahan anggaran berkurang atau tertunda.

Meski demikian, klaim tersebut tetap bersifat analitis dan belum terbukti secara resmi.

Dinamika Koalisi dan Kasus Hukum

Netanyahu juga menghadapi persoalan hukum domestik. Ia masih menjalani proses persidangan atas dugaan korupsi yang telah berlangsung lama. Situasi ini turut memengaruhi stabilitas politiknya.

Di sisi lain, hubungan dengan partai-partai ultra-Ortodoks sempat mengalami ketegangan yang membuat koalisi kehilangan mayoritas tipisnya.

Faktor-faktor tersebut menjadikan posisi Netanyahu rentan sebelum eskalasi konflik terbaru terjadi.

Risiko Jika Perang Berkepanjangan

Meski konflik dapat menciptakan efek "rally around the flag" — yakni peningkatan dukungan terhadap pemimpin saat negara menghadapi ancaman eksternal — efek ini tidak selalu bertahan lama.

Analis geopolitik Michael Horowitz menilai bahwa keberhasilan militer dapat meningkatkan persepsi kepemimpinan Netanyahu. Namun risiko tetap ada apabila konflik berlangsung lama dan menimbulkan korban jiwa signifikan.

Dalam perang sebelumnya pada 2025, serangan rudal Iran menewaskan puluhan warga Israel. Dalam eskalasi terbaru, korban jiwa kembali dilaporkan akibat serangan balasan.

Publik Israel dikenal memiliki toleransi rendah terhadap perang yang berkepanjangan, terutama jika dibarengi tekanan ekonomi.

Popularitas Militer vs Popularitas Pemimpin

Menariknya, sejumlah survei menunjukkan bahwa dukungan publik lebih banyak mengarah kepada militer Israel ketimbang kepada figur politik.

Kepercayaan terhadap Angkatan Pertahanan Israel meningkat sejak dimulainya konflik besar di kawasan. Namun hal tersebut tidak secara otomatis berbanding lurus dengan kenaikan popularitas Netanyahu secara pribadi.

Sebagian analis menilai bahwa keberhasilan militer dipandang sebagai hasil profesionalisme tentara dan ketahanan warga sipil, bukan semata-mata keputusan politik pemerintah.

Narasi "Kemenangan Total" dan Strategi Kampanye

Netanyahu kerap menggunakan narasi "kemenangan total" dalam pidato politiknya. Serangan terhadap Iran dinilai dapat memperkuat citra tersebut jika hasilnya dianggap sukses secara strategis.

Namun sejumlah jurnalis Israel mengingatkan bahwa kemenangan militer tidak selalu identik dengan perubahan fundamental. Hamas masih beroperasi di Gaza, dan Iran tetap memiliki kapasitas militer serta jaringan sekutu regional.

Persepsi publik akan sangat bergantung pada perkembangan di lapangan dalam beberapa bulan mendatang.

Faktor Ekonomi dan Ketahanan Sosial

Selain aspek keamanan, faktor ekonomi turut menentukan arah opini publik. Perang berkepanjangan berpotensi menekan anggaran negara, meningkatkan biaya hidup, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Dalam situasi demikian, dukungan terhadap pemerintah dapat kembali menurun meskipun awalnya meningkat akibat sentimen patriotisme.

Stabilitas politik Israel menjelang pemilu 2026 kini berada di persimpangan antara dinamika militer eksternal dan tekanan domestik internal. Arah konflik dengan Iran dalam waktu dekat akan sangat menentukan posisi Netanyahu di panggung politik nasional.

Lebih baru Lebih lama
Cek artikel lainnya lebih cepat melalui saluran WhatsApp. Dan support kami dengan SHARE tulisan ini serta trakteer kami KOPI.

Formulir Kontak